Duapuluh empat jam sehari terasa masih kurang untuk menjalani semua kegiatan yang biasa aku kerjakan setiap harinya. Tugas kuliah, diskusi mahalnya biaya pendidikan, rapat agenda kegiatan organisasi, nongkrong sambil ngobrol bersama beberapa teman kelas dengan suguhan kopi dan rokok di depan cafë kampus. Ditambah kerjaan nge-layout majalah yang akan diterbitkan oleh lembaga pers mahasiswa di kampus, akhir-akhir ini terus mengisi hari-hariku.
Sejenak ku tinggalkan rutinitas harianku, dan pulang menuju kosan yang sudah jarang aku isi beberapa hari lalu setelah kuliah pagi itu. Kekangenan ibu kos yang menanyakan kabarku karena jarang sekali ku terlihat di kosan menyambut kedatangan ku di rumah kos. Saat kubuka pintu kamar kosku, terlihat banyak masalah menghiasi yang tak sadar aku buat dan menambah masalah dalam hidupku. Tumpukan baju-baju kotor yang belum sempat aku cuci selama sebulan lebih, buku-buku yang bergeletakan di lantai dan bau busuk menambah semarak nuansa kamarku. Jendela yang tertutup coba aku buka supaya ada sedikit sinar matahari yang dapat masuk ke kamarku. Matahari itu memecah dingin kamarku seperti Aukflarung yang membawa manusia dari jaman kegelapan irasional Agama ke dalam pencerahan rasional akal. Dengan mengikuti metode-metode rasional Matematis, kusediakan lima kotak dus besar yang kubeli dari toko dengan perkiraan jenis-jenis jumlah buku dan pakaian yang berserakan. Kemeja aku masukkan ke dus yang pertama, T-shirt ke dus kedua, celana jeans dus yang ketiga, dan jaket dan celana katun ku masukkan ke dus yang keempat. Dus kelima aku peruntukkan buku-buku yang beragam jenisnya. Namun karena jenis bukunya terlalu banyak mulai dari buku matematika, biologi, kimia, fisika, geografi, antrophologi aku pun memasukkannya ke satu dus sekaligus, sebab semuanya mengakar pada satu sumber yaitu rasionalitas IPTEK. Dan dus-dus itu pun kususun dengan sistematis. Ruang kamarku pun nampak lebih minimalis sederhana.
Arsip untuk Agustus, 2008
Dunia dalam Kotak Angka
Kala Nabi-ku dilecehkan?
Wacana mengenai pelecehan terhadap nabi Muhammad beberapa waktu silam sempat kembali terdengar. Pelaku dan motifnya masih sama. Gambar karikatur mengibaratkan Muhammad yang sedang memegang sebilah pedang dan diatas kepalanya tersimpan sebuah bom yang dibuat oleh seorang berkewarga negaraan Denmark. Banyak pihak yang mengecam keras hal ini, terutama dari beberapa kalangan umat islam sendiri yang menuntut agar pelakunya untuk diadili dan dijatuhi hukuman oleh pemerintahan Denmark. Alasannya, pelecehan terhadap nabi muhammad dianggap oleh umat islam sebagai pelecehan terhadap agama islam. Dan tentunya menyakiti umat islam sebagai umatnya, yang menganggap nabi Muhammad sebagai pembawa wahyu Allah SWT yaitu Al Qur’an. Saya pun demikian kiranya, akan sangat marah sekali jika memang yang digambar oleh si pembuat karikatur tersebut adalah Nabi Muhammad yang sebenarnya.
Namun menurut saya, di sisi lain tindakan yang ekstra hati-hati pun harus dilakukan untuk menyikapi hal ini. Kemungkinan untuk memancing emosi dengan mengharapkan tindakan anarkhis dari umat iIslam pun akan selalu ada untuk menghidupkan kembali wacana “islam sebagai teroris” yang sudah mulai mereda dan sering dikumandangkan sang adikuasa. Yang akhirnya hanya akan menyelimuti maksud sebenarnya dari ikrar perang terhadap terorisme atas nama demokrasi yang bisa jadi hanya menjadi topeng saja. Demokrasi telah menjadi manfaat bagi orang-orang yang sekalipun tidak berjuang untuk demokrasi.
Di saat perkuliahan sedang berlangsung dengan penuh perhatian, tiba-tiba telepon genggam mode silent si bungsu bergetar. Pada layar LCD HP-nya bertuliskan Mama memanggil. Tanpa maksud untuk durhaka terhadap orang tuanya, si bungsu me-reject panggilan itu. Dia tahu sifat ibunya yang akan memaklumi kondisi yang sedang dihadapi saat itu. Yaitu, ruang perkuliahan yang memiliki seperangkat aturan-aturan saklek, kaku dan formal, belum ditambah seabrek etika. Sanksi moral sampai sanksi dikeluarkan dari ruang kelas, akan diterimanya jika tidak patuh dan tunduk terhadap aturan dan etika itu. Sehingga si bungsu tidak berani untuk mengambil resiko itu.
Baru setelah selesainya jam perkuliahan, melalui pesan singkat HP atau yang lebih tren dengan istilah SMS, dia mempersilahkan ibunya untuk menelpon kembali.
“Mam, silahkan kalo mau nelpon lagi, tadi aku lagi ada jam perkuliahan. Txt: Master”, tulis si bungsu pada SMSnya.
Tidak lama kemudian, HPnya bergetar kembali, dan dia segera mengangkat panggilan tersebut.
“Assalamualaikum Mam!”, sapa si bungsu
“Wa’alaikumsalam”, jawab ibunya
“Gimana? Ada apa Mam?”, Tanya si bungsu
“Kondisi kesehatan kamu bagaimana, Nak?”, Tanya si Ibu
“Sehat alhamdulillah”, si bungsu menjawab dengan mimik dahi sedikit mengkerut. Karena si Bungsu berfirasat, pertanyaan Ibunya tadi bukanlah hal inti yang ditanyakan. Dalam artian, ada hal lain atau hal yang lebih penting diripada menanyakan kondisi kesehatannya.
Si Ibu meneruskan perkataannya, “gini nak, kakakmu Rina akhir bulan ini akan melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya”.
Aktivis Islamis
Aktivitas sejumlah aktivis yang mengatasnamakan Islam atau aktivitas Islamis, sering kali muncul pada berbagai pemberitaan di televisi dengan sejumlah identitas yang dibawa oleh para aktivisnya. Di Ibu Kota terjadi aksi demonstrasi PKS dalam menentang penyerangan AS terhadap Afghanistan dan aksi pemboikotan terhadap produk dan jasa Amerika dan Israel, razia tempat-tempat hiburan yang disinyalir oleh FPI sebagai penyelenggara kemaksiatan sampai Insiden Monas 1 Juni kemarin. Secara kuantitas, aktivis yang berperan serta dalam aksi kolektif itu memang nampak banyak, sampai-sampai memadati ruas jalanan Ibu Kota. Bahkan aksi sweeping tempat-tempat hiburan yang dilakuakn FPI cukup untuk membuat takut para pengunjungnya dan membubarkan diri.

Komentar Terakhir