Wacana mengenai pelecehan terhadap nabi Muhammad beberapa waktu silam sempat kembali terdengar. Pelaku dan motifnya masih sama. Gambar karikatur mengibaratkan Muhammad yang sedang memegang sebilah pedang dan diatas kepalanya tersimpan sebuah bom yang dibuat oleh seorang berkewarga negaraan Denmark. Banyak pihak yang mengecam keras hal ini, terutama dari beberapa kalangan umat islam sendiri yang menuntut agar pelakunya untuk diadili dan dijatuhi hukuman oleh pemerintahan Denmark. Alasannya, pelecehan terhadap nabi muhammad dianggap oleh umat islam sebagai pelecehan terhadap agama islam. Dan tentunya menyakiti umat islam sebagai umatnya, yang menganggap nabi Muhammad sebagai pembawa wahyu Allah SWT yaitu Al Qur’an. Saya pun demikian kiranya, akan sangat marah sekali jika memang yang digambar oleh si pembuat karikatur tersebut adalah Nabi Muhammad yang sebenarnya.
Namun menurut saya, di sisi lain tindakan yang ekstra hati-hati pun harus dilakukan untuk menyikapi hal ini. Kemungkinan untuk memancing emosi dengan mengharapkan tindakan anarkhis dari umat iIslam pun akan selalu ada untuk menghidupkan kembali wacana “islam sebagai teroris” yang sudah mulai mereda dan sering dikumandangkan sang adikuasa. Yang akhirnya hanya akan menyelimuti maksud sebenarnya dari ikrar perang terhadap terorisme atas nama demokrasi yang bisa jadi hanya menjadi topeng saja. Demokrasi telah menjadi manfaat bagi orang-orang yang sekalipun tidak berjuang untuk demokrasi.
Selanjutnya usaha untuk terus meng-cross check pun perlu terus dilakukan. Apakah memang benar muhammad yang digambarkan melalui karikatur itu adalah Rasulallah SAW? Dari mana kita mengetahui bahwa gambar seperti itu adalah gambar muhammad? Sementara saya masih meyakini bahwa umat islam di seluruh muka bumi ini tidak ada yang menyimpan gambar, lukisan, patung atau foto dokumentasi Rasulallah SAW. Juga banyaknya nama-nama yang didepannya dicantumkan nama Muhammad yang dikenang sebagai proklamator Indonesia di tahun 1945, sampai dengan Muhammad sebagai koruptor pada tahun 1998-an.
Perlu menjadi sebuah refleksi diri bagi kita sebagai umat muhammad yang sudah berabad-abad jauh darinya, dalam menghadapi hal yang serupa seperti yang terjadi pada Rasullallah SAW sendiri, yaitu ketika beliau berjalan melewati masyarakat sempat dilempari oleh batu serta kotoran binatang pada awal kemunculan islam, karena kritiknya terhadap kemapanan tradisi dan budaya masyarakatnya arab saat itu. Dan ketika Jibril mendatangi dan menawarkan jasanya kepada Rasulallah untuk membalikkan gunung kepada orang-orang yang telah melukai dan menghinanya, Muhammad dengan penuh pertimbangan menolak tawaran jasa Jibril. Karena Dia mengetahui, perjalanan untuk memberitakan kebenaran aral melintang begitu menghadang, dan memaafkan orang-orang yang telah menghinanya lebih karena ketidaktahuan mereka.
Lantas alasan apalagi yang mengharuskan umat islam saat ini melakukan tindakan yang melebihi apa yang pernah dicontohkan Rasulallah SAW, dengan menganggap orang-orang yang telah menghina Islam atau Rasulallah atau Allah sekalipun halal darahnya dan harus diperangi?
Atau wacana ini hanya menjadi sarana saja, untuk menarik simpati masyarakat yang notabene mayoritas beragama islam demi kepentingan politik kekuasaan saja?
Atau mungkin juga karena kita masih terjebak pada pemahaman Agama dalam sisi simbolik dan eksoteris-nya saja?
Termasuk saya sendiri…

ehm..asslm..
keren tulisannya..
dewi yang mana bozzzzz?????
setahuku, belum ada dermaga yang kamu singgahi.
hua……