10
Des
08

Kenapa Liberal begitu Mencekam?

Liberal, Libertarian, Liberalisme.

Seringkali wacana ‘Liberal’ menjadi kambing hitam dari segala macam munculnya permasalahan pergaulan bebas, free sex, amoral, anti etika, serta segala perilaku yang tidak mengenal batas. Hal itulah yang kemudian nampak di saat seorang kawan mewanti-wanti untuk tidak membicarakan perihal demokrasi kampus. Sebab menurutnya, hal tersebut dekat dengan Jaringan Islam Liberal (JIL)—sebuah lembaga yang banyak menggagas ide-ide liberal dalam islam.red—tanpa penjelasan lebih darinya. Bahkan di lain cerita seorang teman dekat, disarankan oleh teman-teman kosnya untuk menjauh dan tidak bergaul bersama orang ‘Liberal’. 

Di waktu yang bersamaan, ‘kemerdekaan’ begitu dijunjung tinggi dan diagung-agungkan. Tidak tanggung-tanggung, orang yang phobia pada ‘Liberal’ telah ikut andil dalam merasakan kemaslahatan kondisi yang tercipta lewat perjuangan melawan ketertekanan oleh penjajahan menuju ‘kemerdekaan’. Lantas kenapa ‘Liberal’ masih begitu menyeramkan sementara ‘kemerdekaan’ begitu agung? Bukankah kedua hal ini masih berada dalam satu makna yang sama?

Saya jadi teringat pada Michael Foucault dalam kajian episteme-nya. Menurut dia tidak akan ada ide/gagasan yang diungkapkan oleh seseorang kemudian menjadi umum di masyarakat tanpa adanya saling keterkaitan dengan aspek lain dalam sebuah sistem sosial. Saya menaruh kecurigaan dengan kata ‘Kemerdekaan’ yang dipegang teguh oleh masyarakat saat ini dicapai dengan melibatkan berbagai unsur, seperti: Politik, kekuasaan, kepentingan, dan institusi-institusi pendidikan. Hal tersebut dilakukan layaknya bentuk sosialisasi melalui discourse, penjelasan, atau uraian bahasa yang selalu mengarah pada pemaknaan kata ‘Kemerdekaan’ dengan cita rasa tinggi yang dilekatkan padanya. Peringatan momen bersejarah setiap tanggal 17 Agustus pun merupakan salah satu instrumen yang terlibat dalam mengkonstruksi kata Kemerdekaan dalam setiap benak pikiran sehingga menjadikannya umum dan penuh dengan jiwa patriotis.

Beda halnya dengan Liberal, kekuasaan mengatur dengan memberikan jarak antara Kemerdekaan dan Liberal. Kata Liberal sebagai peristilahan asing yang diadopsi kedalam bahasa Indonesia diartikan secara teks ‘bebas’ saja. Namun kajian mengenai makna atau esensi filosofi yang terkandung didalamnya dibiarkan ter-undercover. Dikenal dalam kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), suatu kata dapat berkembang ke arah amelioratif atau membaik dan sebaliknya peyoratif atau memburuk. Maka saat ini ‘Liberal’ sedang bergerak kearah peyoratif. Sebab banyaknya perjumpaan dengan permasalahan seperti pergaulan bebas yang tabu dimata umum disimpulkan sebagai buntut dari pemikiran ‘Liberal’. Dengan alasan untuk menyelamatkan moral masyarakat, kekuasaan yang diperoleh secara politis menmentransformasikan penolakan dan pelarangannya terhadap pergaulan bebas sekaligus pemikiran liberal beserta kata liberal secara tekstualnya.

Kadung menjadi sosok yang tabu dan menyeramkan, pemakaian stereotif liberal sebagai identifikasi cara pandang baru terhadap realitas yang ditawarkan ditengah-tengah kemapanan tatanan sosial yang berkuasa, hal tersebut terkesan sebagai sesuatu yang begitu sensasional dan membahayakan bahkan berencana untuk menghancurkan. Semisal, penawaran ide/ gagasan mengenai islam liberal menyulut pro dan kontra di dalam sistem sosial pemahaman islam secara fundamental yang sudah terlebih dahulu menjadi umum di masyarakat dan menempati posisi kekuasaan. Saat ini, dalam kondisi free market idea adanya upaya untuk mempertahankan dan menempati posisi kekuasaan terjalin dalam sebuah perdebatan yang sebenarnya hanya dilakukan oleh beberapa saja. Pada hasilnya makna ‘Liberal’ menjadi sesuatu yang begitu diperebutkan atau contested. Dalam perkembangannya masyarakat yang masih tergantung kepada beberapa orang saja dengan menaruh kepercayaan penuh hanya menjadi pendengar ataupun simpatisan dan sasaran yang siap diarahkan, diombang-ambing tanpa terlibat langsung kedalam perdebatan makna liberal yang diperebutkan oleh mind setter masyarakat.

Ketidak berterimaan pada penambahan kata liberal setelah islam, secara sistematis mencoba untuk mengarahkan masyarakat yang belum pernah mengenal jauh tentang islam liberal dalam bentuk penolakan dan pelarangan terhadap islam liberal, hal ini diperkuat dengan adanya fatwa MUI yang masih tergolong fundamental dalam islam yang mengecam ide-ide yang ditawarkan oleh JIL. Lebih lanjutnya MUI memfatwa JIL sebagai organisasi terlarang. Tanggapan secara positif datang dari organisasi-organisasi masyarakat yang turut mendukung langkah yang dilakukan oleh MUI sebagai bentuk persetujuan terhadap ide-ide fundamentalisme dalam islam dan anti islam liberal.

Dari hasil survey yang dilakukan oleh Syaiful Mujani, iklim di kampus sudah berubah menjadi salah satu basis dari pergerakan organisasi masyarakat Islam fundamental. Secara ide atau pemahaman terhadap islam pun demikian. Sehingga seringkali terlihat mushola-mushola di kampus ikut memampang dan mempropagandakan larangan dan penolakannya terhadap ide liberal terutama liberal dalam Islam.

Sebagai seorang mahasiswa sudah sepantasnya lah untuk berfikir secara mendalam ketika menanggapi pro kontra ide atau gagasan liberal, baik itu dalam agama, tatanan sosial, politik ataupun sistem perekonomian sekalipun. Terjebak dalam pemahaman secara tekstual saja, hanya akan menimbulkan prasangka belaka. Tentunya hal itu ditujukan agar dapat memantapkan posisi sebagai mahasiswa, tidak terombang-ambing, di dalam pergulatan khazanah pemikiran dunia yang berada dalam free market idea. Wallahu’alam. []


2 Tanggapan ke “Kenapa Liberal begitu Mencekam?”


  1. 1 bayu
    30 Agustus 2009 pada 3:35 AM

    ISLAM LIBERAL FUCCCCCK YOU

  2. 6 Januari 2010 pada 5:32 PM

    wah kasian bener ya para liberalis seperti saya..

    walaupun saya islam dan saya orang yang liberalis, namun saya bukan JIL..

    mungkin anggapan bahwa liberalisme adalah suatu yang harus di musuhi udah menggeneralisasi, jadi sangat mudah mencari kambing hitam ke para liberalis yang masih tahu aturan..

    kalo menurutku para JIL yang radikal juga terbentuk karna adanya islam radikal yang udah duluan muncul..

    kalo aku sih masih punya pegangan yaitu kebebasanku juga dibatasi oleh kebebasan orang lain jadi nda semena-mena bebas hingga melakukan tindak asusila dll..

    boleh lah anti JIL tapi jangan anti para liberalis, apa lagi seniman, seniman kalo nda bs bebas berkarya juga nda bs jadi seniman besar. Toh mereka juga manusia..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Stats Counter

  • 5,427 Orang

Peta Pengunjung

 

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Tulisan Teratas

Tag

Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.