Graffiti decorations Under the sky of dust
A constant wave of tension On top of broken trust
The lessons that you taught me I learned were never true
Now I find myself in question They point the finger at me again
Guilty by association You point the finger at me again
I wanna run away Never say goodbye
I wanna know the truth Instead of wondering why
I wanna know the answers No more lies
I wanna shut the door And open up my mind
……….
(Runaway—Linkin Park)
Dialektika enggan untuk dilakukan. Alasannya sederhana, “bribet, ngerepotin”. Tanpa dialektika seperti inilah yang dimaksud sebagai pembusukan. Bahkan suara-suara minor yang menyarankan untuk legowo, nerimo, ikhlas pada sebuah diskursus atau musyawarah menjadi hal yang problematis karena turut berperan dalam mengintimidasi dan memupuskan upaya dialektika sehingga menebar benih pembusukan.
Pada hakekatnya potensi kebenaran atau kesempurnaan tentang sesuatu hal telah dicapai oleh setiap orang dalam benaknya yang abstrak. Pada wujudnya yang nyata, seperti dalam tindakan, disanalah kesempurnaan yang tadinya berada dalam benak yang abstrak terejawantah atau tertuang sebagai bentuk afirmatif atau menyatakan diri dalam kenyataan. Untuk bisa sampai kepada wujudnya yang nyata dilalui sebuah proses yang tercakup dalam dialektika. Dialektika yang terkenal dan kita ketahui dari Hegel, secara sederhana dirumuskan sebagai tesis, antitesis, dan sintesis. Untuk memahami secara persis tentang dialektika, Sindhunata dalam bukunya “Dilema Usaha Manusia Rasional” mengemukakan berpikir dialektika berarti berpikir dalam totalitas. Totalitas ini bukan berarti keseluruhan saja yang unsur-unsurnya sama atau sejajar. Tapi totalitas itu berarti keseluruhan yang terdiri dari unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), dan saling bermediasi (menghubungkan dan dihubungkan).
Semisal antara individu dan masyarakat. Pemikiran dialektika mengharuskan keduanya untuk saling bertarung karena keduanya dianggap sama-sama memiliki potensi kebenaran, jadi tidak boleh ditiadakan salah satunya. Kontradiksi individu dan masyarakat; dengan saling saling melawan satu sama lain, baik individu maupun masyarakat berhak untuk mempertahankan dirinya. Sejalan dengan upaya mempertahankan diri, individu atau masyarakat mampu memahami kebenaran yang ada pada dirinya karena upaya individu atau masyarakat mempertahankan kebenarannya dengan mati-matian harusnyalah kita berterimakasih serta tidak boleh dikorbankan demikian saja. Lalu individu atau masyarakat akan saling bermediasi; tiap pihak akan menginsyafi sudah diperkaya oleh lawannya yang ternyata sudah memberikan apa saja yang tidak dimilikinya, begitupun sebaliknya. Tanpa hubungan dialektika seperti itu, individu tidak akan mampu menemukan hakikat dirinya. Sebaliknya masyarakat yang berada diluar individu tidak akan dapat menjadi lebih sempurna, tinggal seperti semula, dan tidak terjadi perubahan apa-apa.
Sayangnya kesadaran akan adanya dialektika seperti demikian dianggap sebagai bentuk pertentangan saja atau lebih kasarnya pembangkangan yang akan turut mengundang kekerasan fisik dan korban atau violence. Jalan kompromi, kekeluargaan, lebih banyak dipilih dengan anggapan untuk menghindarkan violence. Bahkan dengan gampangnya jalan kompromi diambil sebagai bentuk persetujuan, penyesuaian atau kesepakatan saja. Jelas hal ini berbeda dengan dialektika seperti yang dipahami oleh Sindhunata. Ia pun turut menyayangkan unsur-unsur yang bertentangan dengan mudah untuk diabaikan. Kompromi menjadi sekadar perpaduan individu dan masyarakat. Malah dalam arti tertentu, kompromi bisa berarti saling meniadakan individu atau masyarakat yang saling bertentangan. Perspektif individu dengan masyarakat yang saling berpengaruh pun turut amblas ke dalam kesunyian. Dialektika enggan untuk dilakukan. Alasannya sederhana, “bribet, ngerepotin”. Tanpa dialektika seperti inilah yang dimaksudkan sebagai pembusukan. Bahkan suara-suara minor yang menyarankan untuk legowo, nerimo, ikhlas pada sebuah diskursus atau musyawarah menjadi hal yang problematis dan malah turut berperan dalam mengintimidasi dan memupuskan upaya dialektika sehingga menebar benih pembusukan.
Pembusukan dalam konteks sosial memang tidak sesederhana melihat tumpukan sampah yang dihinggapi lalat dan belatung. Segala hal sudah semakin mudah untuk dilakukan, instan, teknologi semakin canggih—sampai-sampai PRT alias pembantu rumah tangga sudah digantikan sama robot hingga hidup hanya tinggal makan, nonton TV, mandi, buang air seperti diperagakan oleh Butet Kertaradjasa dalam kisah teater monolog ‘Matinya Toekang Kritik’. Butet menganggap ketika harapan akan kesempurnaan kehidupan sudah terjadi, kritik akan sirna. Namun tidak begitu ketika melihat kembali rumusan dialektika. Apa yang dianggap Butet sebenarnya adalah sebuah sintesis yang menjadi tesis baru. Selama tatanan kehidupan terus berlangsung, masih berpeluang untuk memulai babak baru kemunculan antitesa sebagai bentuk kritisisme, agar sampai pada tatanan yang lebih sempurna. Oleh sebab itu, realitas yang terjadi perlu dipandang pertamakali dengan kacamata skeptisisme atau keragu-raguan—bahkan jika perlu dengan penuh rasa takjub. Pilar skeptis akan membuka pintu kebenaran atau kesempurnaan dalam rangka berpikir secara kritis dan lebih mendalam.
Pada kegiatan belajar mengajar di kampus, bagi kita mungkin akan nampak realitas yang biasa-biasa saja. Namun bagi orang sekaliber Paulo Freire ia menemukan dan mengkritik adanya benih-benih penindasan terhadap diri mahasiswa sebagai seorang manusia dewasa. Dosen yang bertindak layaknya sebuah teko berisi penuh dengan air yang terus harus mengisi gelas-gelas kosong. Karena itulah, ia menawarkan gagasan tata cara pembelajaran dengan menempatkan dosen dan mahasiswanya dalam kesetaraan dengan nuansa yang lebih demokratis. Dosen pun disarankan untuk bertindak sebagai seorang fasilitator saja. Sementara partisipasi mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar semakin ditingkatkan. Freire ditempatkan sebagai seorang yang membangunkan kesadaran dosen dan mahasiswa dari tidur panjangnya untuk menggunakan format belajar mengajar yang lebih ideal.
Proses selanjutnya sebagai pengejawantahan hal itu semua, mahasiswa malah lebih senang untuk menjadi pembusuk dengan keengganan untuk berdialektika dengan dosennya. Alasannya mahasiswa kurang persiapan dengan membaca topik pembelajaran sebelumnya. Menyangkut ketidakberterimaan dosen untuk dikritik hanya memberikan rasa takut pada mahasiswa atas predikat penilaian yang akan diberikan oleh dosen.
Tentunya bukan hal semacam itu saja yang perlu dipikirkan secara kritis. Untuk berfikir kritis tidak diperlukan batas sekat apapun yang berada diluar diri atau dunia obyektif. Bahkan dalam penyampaian kekritisan tidak identik dengan cara-cara yang akan mencederai dalam bentuk kekerasan fisik. Sebab masih ada cara lain yang lebih pantas yaitu musyawarah sebagai ruang dialektika. So, jangan pernah untuk mencoba melarikan diri dari masalah, menutupi masalah, menghilangkan permasalahan karena itu akan menyebabkan pembusukan dengan perlahan.[]

0 Tanggapan ke “Pembusukan”