Priyo’s Madness
Berpikir seperti apakah kita tentang kegilaan? Seperti orang yang berada di foto kah? Orang di foto yang saya dokumentasikan tersebut adalah Priyo. Busana yang dipakaiannya kotor, compang-camping, penuh hiasan-hiasan aneh, beraroma yang tidak sedap karena tidak pernah mandi, dan tidur di lantai luar sekertariat pegiat kampus atau disembarang tempat. Sehari-hari dihabiskannya di kampus. Bernyanyi, berorasi di mimbar bebasnya tanpa seorang pun yang berani untuk menghentikannya, nongkrong sama mahasiswa di dekat Cafe kampus. Terkadang Priyo meluapkan kemarahannya dengan berbicara dengan dirinya sendiri dalam nada yang begitu tinggi. Whatever! Apa yang dibicarakannya, apa yang dinyanyikannya, apa yang dilakukanya, mau begini mau begitu, umumnya tak pernah ada yang menghiraukan sebagai sesuatu yang ngelantur, tidak benar. Sebabnya orang se-kampus, se-universitas, se-kecamatan, bahkan mungkin se-dunia sudah terlanjur sepakat untuk menyebutnya crazy man, psycho, orang gila, gemblung, gak waras. Di tambah dengan pembenaran dari analisa dokter kejiwaan—dalam arti yang sebenarnya—dengan beberapa indikator ilmiahnya menjadi satu-satunya dasar kepercayaan untuk memvonis, menentukan kondisi kejiwaan seseorang. Terciptalah Priyo si orang gila.
Untuk bisa menikmati sebatang rokok, Priyo lebih baik meminta kepada mahasiswa yang juga perokok daripada mencuri dari warung. Jika tidak ada yang memberi, ia akan membelinya sendiri di warung. Mungkin dari pemberian orang lain juga ia mendapatkan uang. Kekaguman tersulut di mata seorang kawan pegiat kampus yang menyaksikan tindakannya. Begitupun jika orang satu kampus mengetahuinya. Nada bicara yang agak berlebihan dari kekaguman itu diungkapkan dengan bahasa yang mengatakan “Priyo sudah seperti orang NORMAL saja”. Hei….ada apa dengan bahasa yang diungkapkan seperti itu? Kenapa NORMAL menjadi pakem logika yang diartikan sebagai ambang batas kewarasan, sementara TIDAK NORMAL berarti sudah tidak waras, yang menunjukkan kegilaan dan sudah pasti suatu kesalahan? Bukankah NORMAL itu milik kebanyakan orang saja? Sementara fenomena kegilaan seperti yang dialami oleh Priyo, memaksanya menempati posisi sebagai seorang minoritas.
Priyo’s Wisdom
Sejauh ini, kehadiran Priyo tak pernah menyebabkan masalah secara materil
bagi orang lain. Memanggil seseorang yang dikenalnya, selalu di tambahi dengan embel-embel Pak Jenderal, Dokter, bahkan Presiden. Perlakuan yang begitu appreciate terhadap semua orang yang dijumpainya, menjadikannya begitu mudah untuk melakukan komunikasi. Hampir semua pegiat di kampus dikenalnya, termasuk pula beberapa karyawan fakultas. Untuk menghafal wajah yang diajak berkenalan dengannya begitu tajam. Tindakannya seperti seorang serdadu, dengan tangan yang diangkat diatas mata sebelah kanan, bukti penghormatannya.
Coretan-coretan di dinding sekertariat membentuk sebuah teka-teki hal apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan. Yang ada di dalam pikirannya, begitu saja tertuang dengan lancar. Jika pun ia tidak mampu berfikir lagi, ia menanyakan kepada orang yang dikenalnya, termasuk saya. Disaat orang yang ditanyainya menjawab, “tidak tahu ataupun terserah kamu saja lah”. Tak ada bekas luka hati diraut wajahnya. Soal pendidikan, soal teologis atau ketuhanan, soal keadilan, patriotisme jenderal soedirman menjadi topik yang sering diorasikan olehnya. Pernah suatu ketika, Priyo yang sedang meneriakkan penyakit radang TBC di paru-paru Jenderal Sodirman menanyakan solusinya kepada saya. Dia biasa memanggil saya Dokter Azaari (karena pertama kali ditanya nama, saya menyebut Azaari—nama almarhum Ayah saya) ataupun Bapak PWI (karena saya menggiati organisasi pers mahasiswa). Saking isengnya sudah juga sambil menguji respon yang akan dilakukan oleh priyo, saya menjawab dengan slangean, “mestinya perlu diganti dengan paru-paru orang lain, dan harganya pasti mahal Yo. Mau bayarin gak?”. Karena merasa tidak memiliki uang, Priyo memohon untuk menggratiskannya. Saya melanjutkan dengan nada menolak permohonannya, dan dia tetap memohon. Saya lanjutkan lagi dengan asal tawaran baru, “mengganti paru-paru Pak Dirman yang terkena radang TBC dengan paru-paru tikus”. Seketika nada bicaranya naik, dia mencaci maki omongan yang dianggapnya sebagai suatu kekejaman. Dan dia pergi meninggalkan obrolan itu. Di hari-hari berikutnya Priyo tetap menghargai saya dengan sebutan Pak Dokter ataupun Bapak PWI. Melulu appreciate datang darinya, saya mencoba untuk meng-appreciate balik dirinya. Memperlakukannya sebagai sesama manusia.
Sekali dia pernah mengerjai saya, yaitu pada saat saya sedang gusar menghadapi pelayanan birokrasi kampus yang penuh rasa asam. Birokrasi kampus yang kayak tai. Saya menceritakan kronologis itu pada Priyo dengan emosi yang meluap-luap. Dan seperti apa tanggapannya? Dengan gaya seperti seorang diktator yang sudah menguasai medan perang, dia menghancurkan emosi saya. Dia bilang, “itu bagus, itu untuk membentuk mental kamu”. Sial, dia menyadarkan untuk berpikir positif mengimbangi pikiran negatif. Jika aku menceritakannya kepada sesama mahasiswa, mungkin akan langsung bereaksi dengan aksi demonstrasi di depan fakultas menuntut rekonstruksi pelayanan birokrasi terhadap mahasiswa. Atau mungkin juga cerita itu hanya akan menjadi bahan tertawaan saja.
Konon Priyo sempat mengenyam pendidikan di UGM, namun cerita itu terputus begitu saja pada awal mula nasib yang kini dialaminya. Bagaimana Priyo dapat sampai pada kondisi hingga saat ini? Kenapa tidak ada sanak saudara anggota keluarga yang memperhatikannya? Apakah karena merasa malu untuk mengakui orang seperti Priyo sebagai anggota keluarganya? Kenapa ia lebih memilih untuk berdiam di sekitar kampus? adalah rentetan pertanyaan yang sulit untuk diketahui sjawabannya. Mungkin hanya Priyo sendiri yang menyimpan rahasia itu.[]

sepertinya org yg tidak terlalu normal (dlm persepsi selama ini) Priyo, sprti org kebanyakan y…
bahkan bs jd lbh pintar dr kebanyakan org, sampai akhirnya dia terlihat sprti skrg ini y..
Mungkin justru dia berfikir, yang gila adalah org2 normal tp jahat sprti koruptor dll. Bisa jd, org2 juga akan lbh bs menghargai org2 sprti Priyo drpd org2 penjht pmasyarakat.. hehe…
mksh y udah mampir k blogQ
salam kenal
keep writing
Lw yang gila….
Priyo…minotitas dengan pandangan penghargaan lebih untuk sesama…
mungkin karena kejeniusannya lah akhirnya dia berada pada titik kegilaan yg membelenggu.
kalau ketemu lagi…salam dari suster ria
Priyo…Dianggap sebagai orang gak Normal, tapi dia masih bisa menghargai orang lain (Jend. Sudirman). Tapi..kebanyakan orang yang dianggap Normal (khususnya yang punya kuasa), malah ‘kurang’ bisa menghargai orang lain.
Postingan yang bagus mas.
Salam kenal
linknya sdh k Qpsng di blogQ ats request mas… keep blogging
wah gak nyangka sampe mbhas priyo… salut ide kreatif nulisnya
membaca kisah PRIYO ini aq jadi bisa mengambil kesimpulan kayak ginini..sebetulnya PRIYO inilah orang terkaya didunia karena priyo mempunyai kebebasan untuk berorasi dan di hati priyo ini senantiasa gembira..nah oarng yang kita lihat kaya sebenarnya dia belum merasa kaya sebab kaya itu ada di hati nah kalau priyo ini dah jelas2 kaya karna hatinya selalu gembira dan tidak ada masalah dgn hidupnya,,,,hehehehe
dia tidak gila…!!
saya anak uny..kebetulan pacar saya FE UNSOED…pernah saya sedang menunggu pacar saya di kantin..dan waktu itu saya bertemu Priyo..benar…!!dia panggil saya jendral.
bicaranya pun ga nglantur…jogja???? dia sangat hafal…Indonesia??? dia sangat cinta..!!