Arsip untuk Kategori 'Lamunanku'

10
Des
08

Pembusukan

Graffiti decorations Under the sky of dust
A constant wave of tension On top of broken trust
The lessons that you taught me I learned were never true

Now I find myself in question They point the finger at me again
Guilty by association You point the finger at me again

I wanna run away Never say goodbye
I wanna know the truth Instead of wondering why
I wanna know the answers No more lies
I wanna shut the door And open up my mind
……….
(Runaway—Linkin Park)

Dialektika enggan untuk dilakukan. Alasannya sederhana, “bribet, ngerepotin”. Tanpa dialektika seperti inilah yang dimaksud sebagai pembusukan. Bahkan suara-suara minor yang menyarankan untuk legowo, nerimo, ikhlas pada sebuah diskursus atau musyawarah menjadi hal yang problematis karena turut berperan dalam mengintimidasi dan memupuskan upaya dialektika sehingga menebar benih pembusukan.


Tuli, Buta, Bisu.Pada hakekatnya potensi kebenaran atau kesempurnaan tentang sesuatu hal telah dicapai oleh setiap orang dalam benaknya yang abstrak. Pada wujudnya yang nyata, seperti dalam tindakan, disanalah kesempurnaan yang tadinya berada dalam benak yang abstrak terejawantah atau tertuang sebagai bentuk afirmatif atau menyatakan diri dalam kenyataan. Untuk bisa sampai kepada wujudnya yang nyata dilalui sebuah proses yang tercakup dalam dialektika. Dialektika yang terkenal dan kita ketahui dari Hegel, secara sederhana dirumuskan sebagai tesis, antitesis, dan sintesis. Untuk memahami secara persis tentang dialektika, Sindhunata dalam bukunya “Dilema Usaha Manusia Rasional” mengemukakan berpikir dialektika berarti berpikir dalam totalitas. Totalitas ini bukan berarti keseluruhan saja yang unsur-unsurnya sama atau sejajar. Tapi totalitas itu berarti keseluruhan yang terdiri dari unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), dan saling bermediasi (menghubungkan dan dihubungkan).

Semisal antara individu dan masyarakat. Continue reading ‘Pembusukan’

10
Des
08

Kenapa Liberal begitu Mencekam?

Liberal, Libertarian, Liberalisme.

Seringkali wacana ‘Liberal’ menjadi kambing hitam dari segala macam munculnya permasalahan pergaulan bebas, free sex, amoral, anti etika, serta segala perilaku yang tidak mengenal batas. Hal itulah yang kemudian nampak di saat seorang kawan mewanti-wanti untuk tidak membicarakan perihal demokrasi kampus. Sebab menurutnya, hal tersebut dekat dengan Jaringan Islam Liberal (JIL)—sebuah lembaga yang banyak menggagas ide-ide liberal dalam islam.red—tanpa penjelasan lebih darinya. Bahkan di lain cerita seorang teman dekat, disarankan oleh teman-teman kosnya untuk menjauh dan tidak bergaul bersama orang ‘Liberal’.  Continue reading ‘Kenapa Liberal begitu Mencekam?’

16
Nov
08

Surat terbuka untuk Dewisurga

Dewi,bidadari

Aku menghampirimu tadi malam

Ah! Dingin

Parasmu berpaling dari muka ku

Harusnya kau tahu,

Bukan karena tubuhmu yang seksi

Aku menyukaimu

Lembaran kain besar

Membalut tubuhmu

Hanya paras dan telapak tangan

Tidak karena itu juga

Aku menyayangimu

Bibirku yang kaku

Ku paksa untuk menyapa mu

Dari mana?

Mau kemana?

Lagi ngapain?

Satu dua kata juga

Terjawab

Aku mencintaimu

Karena,

Entah

Masihkah harus rasional?

Kamu tahu hal itu

Bibirmu juga beku setelahnya

Hanya selembar kertas

Tertulis nomor handphone mu

Kau berikan

Maksudmu aku tahu, sayang sekadar tahu

Kembali aku menatapmu

Kau tertunduk

Aku tidak berbuat, kecuali menatap

Sampai pagi hari

Membangunkanku dari mimpi.

Meskipun nyata

Itu tetaplah mimpi

Aku rasa, kau tak akan membalas

Rasa yang ku pendam

Ketakutanku

Kamu akan membedakanku.

10
Okt
08

Terdiam

Sungguh, terdiam adalah seribu bahasa. Sebuah peribahasa yang perlahan mulai nampak kenyataannya. Bernostalgia dalam ruang musyawarah, pembelajaran, diskusi, seminar atau talkshow yang dijamin kebebasannya untuk bersuara dan berpendapat, diam masih menjadi pilihan kebanyakan. Ada gagasan, namun tak ada tanggapan. Seolah gagasan yang tertuang sudah pasti benar, tidak ada celah kesalahan sedikitpun. Duga-menduga mengartikan diam bisa jadi beragam.

Diam itu emas.
Diam itu acuh tak acuh
Diam itu sedang berfikir
Diam itu sedang kebingungan.
Diam itu sudah paham
Diam itu tidak paham
Cukup diam saja! Sebab sudah berlandaskan “tafsir” atas wahyu Tuhan. Continue reading ‘Terdiam’

31
Agu
08

Dunia dalam Kotak Angka

Duapuluh empat jam sehari terasa masih kurang untuk menjalani semua kegiatan yang biasa aku kerjakan setiap harinya. Tugas kuliah, diskusi mahalnya biaya pendidikan, rapat agenda kegiatan organisasi, nongkrong sambil ngobrol bersama beberapa teman kelas dengan suguhan kopi dan rokok di depan cafë kampus. Ditambah kerjaan nge-layout majalah yang akan diterbitkan oleh lembaga pers mahasiswa di kampus, akhir-akhir ini terus mengisi hari-hariku.
Sejenak ku tinggalkan rutinitas harianku, dan pulang menuju kosan yang sudah jarang aku isi beberapa hari lalu setelah kuliah pagi itu. Kekangenan ibu kos yang menanyakan kabarku karena jarang sekali ku terlihat di kosan menyambut kedatangan ku di rumah kos. Saat kubuka pintu kamar kosku, terlihat banyak masalah menghiasi yang tak sadar aku buat dan menambah masalah dalam hidupku. Tumpukan baju-baju kotor yang belum sempat aku cuci selama sebulan lebih, buku-buku yang bergeletakan di lantai dan bau busuk menambah semarak nuansa kamarku. Jendela yang tertutup coba aku buka supaya ada sedikit sinar matahari yang dapat masuk ke kamarku. Matahari itu memecah dingin kamarku seperti Aukflarung yang membawa manusia dari jaman kegelapan irasional Agama ke dalam pencerahan rasional akal. Dengan mengikuti metode-metode rasional Matematis, kusediakan lima kotak dus besar yang kubeli dari toko dengan perkiraan jenis-jenis jumlah buku dan pakaian yang berserakan. Kemeja aku masukkan ke dus yang pertama, T-shirt ke dus kedua, celana jeans dus yang ketiga, dan jaket dan celana katun ku masukkan ke dus yang keempat. Dus kelima aku peruntukkan buku-buku yang beragam jenisnya. Namun karena jenis bukunya terlalu banyak mulai dari buku matematika, biologi, kimia, fisika, geografi, antrophologi aku pun memasukkannya ke satu dus sekaligus, sebab semuanya mengakar pada satu sumber yaitu rasionalitas IPTEK. Dan dus-dus itu pun kususun dengan sistematis. Ruang kamarku pun nampak lebih minimalis sederhana.

Continue reading ‘Dunia dalam Kotak Angka’




Stats Counter

  • 5,427 Orang

Peta Pengunjung

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tulisan Teratas

Tag

Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.