Saya kira adanya tuntutan dalam sebuah organisasi sebagai kewajaran. Begitupun pada organisasi yang concern dalam tulis menulis seperti di Lembaga Pers Mahasiswa Media Ekonomi ataupun di LS Profetika yang saya geluti. Malam itu, terjadi obrolan yang panjang dengan Firdaus Putra Aditama—Direktur LS Profetika—yang mengusulkan dalam tempo dua minggu sekali, setiap anggota LS Profetika untuk membuat minimal dua tulisan untuk didiskusikan bersama. Temanya bebas, meskipun LS Profetika sendiri memfokuskan diri pada tema-tema sosial keagamaan. Agenda rutin tersebut ditujukan untuk menjadi tempat pemberdayaan setiap anggota dalam menulis. Sejauh itu kami menemukan kesepakatan dan saya tidak keberatan.
Bercermin ke dalam diri sendiri, lebih jauhnya saya menemukan ketidak-sreg-an atas usulan Firdaus. Walaupun memang perkenalan dengan tulisan sudah sejak SD, tapi bagi saya, menulis masih merupakan hal yang baru. Mulai mengenal manfaat dalam menulis di perguruan tinggi, membuat saya seperti kembali pada titik nadir. Meskipun adagium “Lisan itu Fana, Tulisan itu Abadi” yang banyak diucapkan untuk menumbuhkan minat dalam menulis, tapi banyak juga yang menganggap adagium tersebut sekadar kata mutiara. Untuk dapat menerima adagium tersebut sampai muncul kemauan untuk mulai menulis tentu dibutuhkan penghayatan, yang tidak instan seperti diharapkan oleh adagium tersebut.
Dilain sisi, mengingat organisasi sebagai lingkungan dengan segala tradisinya. Baik LS Profetika maupun LPM Media Ekonomi memiliki tradisi tulis menulis. Perkenalan dan tahu soal manfaat menulis, saya akui adalah buah dari proses dialektika saya dengan tradisi yang dimiliki organisaisi. Satu tahun, dua tahun dan baru memasuki tahun ketiga di organisasi, saya benar-benar merasakan nikmat dan adanya tujuan yang dapat diperoleh dari sebuah tulisan sehingga mulai menggerakkan jari jemari untuk menulis. Meskipun tidak pasti tulisan yang saya tulis pernah di baca atau tidak oleh orang lain?
Apabila terbentur masa kelulusan dari Universitas, yang diikuti berakhirnya keikutsertaan saya dalam organisasi-organisasi tersebut, saya khawatir akan meleber kepada hilangnya minat atau malah jadi enggan untuk menulis lagi. Saya menyimpulkan bagaimana seharusnya minat untuk menulis agar dapat terus terpelihara pada saat sendiri hingga saya lulus nanti, berpisah dengan sahabat-sahabat atau mungkin juga hingga saya mati? Menulis yang diperoleh dari proses yang instan, saya rasa tidak mampu terpelihara dalam waktu yang lama. Saya khawatir lingkungan seperti kedua organisasi itu hanya menjadi super ego dengan ritual-ritual yang mesti diikuti. Begitulah saya mencermati usulan Firdaus. Dan saya meminta agar ditempatkan sebagai free rider saja, ketika agenda diskusi soal tulisan LS Profetika berlangsung. Sebagai free rider saya mencoba untuk tetap menulis, namun saya maksudkan tidak dalam rangka untuk memenuhi tuntutan lembaga yang menjadi formal.[]
Komentar Terakhir