Arsip untuk Kategori 'Uncategorized'

30
Des
08

Madness & Wisdom

Priyo’s Madness

GilaBerpikir seperti apakah kita tentang kegilaan? Seperti orang yang berada di foto kah? Orang di foto yang saya dokumentasikan tersebut adalah Priyo. Busana yang dipakaiannya kotor, compang-camping, penuh hiasan-hiasan aneh, beraroma yang tidak sedap karena tidak pernah mandi, dan tidur di lantai luar sekertariat pegiat kampus atau disembarang tempat. Sehari-hari dihabiskannya di kampus. Bernyanyi, berorasi di mimbar bebasnya tanpa seorang pun yang berani untuk menghentikannya, nongkrong sama mahasiswa di dekat Cafe kampus. Terkadang Priyo meluapkan kemarahannya dengan berbicara dengan dirinya sendiri dalam nada yang begitu tinggi. Whatever! Apa yang dibicarakannya, apa yang dinyanyikannya, apa yang dilakukanya, mau begini mau begitu, umumnya tak pernah ada yang menghiraukan sebagai sesuatu yang ngelantur, tidak benar. Sebabnya orang se-kampus, se-universitas, se-kecamatan, bahkan mungkin se-dunia sudah terlanjur sepakat untuk menyebutnya crazy man, psycho, orang gila, gemblung, gak waras. Di tambah dengan pembenaran dari analisa dokter kejiwaan—dalam arti yang sebenarnya—dengan beberapa indikator ilmiahnya menjadi satu-satunya dasar kepercayaan untuk memvonis, menentukan kondisi kejiwaan seseorang. Terciptalah Priyo si orang gila. Continue reading ‘Madness & Wisdom’

10
Des
08

Pembusukan

Graffiti decorations Under the sky of dust
A constant wave of tension On top of broken trust
The lessons that you taught me I learned were never true

Now I find myself in question They point the finger at me again
Guilty by association You point the finger at me again

I wanna run away Never say goodbye
I wanna know the truth Instead of wondering why
I wanna know the answers No more lies
I wanna shut the door And open up my mind
……….
(Runaway—Linkin Park)

Dialektika enggan untuk dilakukan. Alasannya sederhana, “bribet, ngerepotin”. Tanpa dialektika seperti inilah yang dimaksud sebagai pembusukan. Bahkan suara-suara minor yang menyarankan untuk legowo, nerimo, ikhlas pada sebuah diskursus atau musyawarah menjadi hal yang problematis karena turut berperan dalam mengintimidasi dan memupuskan upaya dialektika sehingga menebar benih pembusukan.


Tuli, Buta, Bisu.Pada hakekatnya potensi kebenaran atau kesempurnaan tentang sesuatu hal telah dicapai oleh setiap orang dalam benaknya yang abstrak. Pada wujudnya yang nyata, seperti dalam tindakan, disanalah kesempurnaan yang tadinya berada dalam benak yang abstrak terejawantah atau tertuang sebagai bentuk afirmatif atau menyatakan diri dalam kenyataan. Untuk bisa sampai kepada wujudnya yang nyata dilalui sebuah proses yang tercakup dalam dialektika. Dialektika yang terkenal dan kita ketahui dari Hegel, secara sederhana dirumuskan sebagai tesis, antitesis, dan sintesis. Untuk memahami secara persis tentang dialektika, Sindhunata dalam bukunya “Dilema Usaha Manusia Rasional” mengemukakan berpikir dialektika berarti berpikir dalam totalitas. Totalitas ini bukan berarti keseluruhan saja yang unsur-unsurnya sama atau sejajar. Tapi totalitas itu berarti keseluruhan yang terdiri dari unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), dan saling bermediasi (menghubungkan dan dihubungkan).

Semisal antara individu dan masyarakat. Continue reading ‘Pembusukan’

10
Des
08

Kenapa Liberal begitu Mencekam?

Liberal, Libertarian, Liberalisme.

Seringkali wacana ‘Liberal’ menjadi kambing hitam dari segala macam munculnya permasalahan pergaulan bebas, free sex, amoral, anti etika, serta segala perilaku yang tidak mengenal batas. Hal itulah yang kemudian nampak di saat seorang kawan mewanti-wanti untuk tidak membicarakan perihal demokrasi kampus. Sebab menurutnya, hal tersebut dekat dengan Jaringan Islam Liberal (JIL)—sebuah lembaga yang banyak menggagas ide-ide liberal dalam islam.red—tanpa penjelasan lebih darinya. Bahkan di lain cerita seorang teman dekat, disarankan oleh teman-teman kosnya untuk menjauh dan tidak bergaul bersama orang ‘Liberal’.  Continue reading ‘Kenapa Liberal begitu Mencekam?’

10
Des
08

Memawasdirikan Menulis

menulisSaya kira adanya tuntutan dalam sebuah organisasi sebagai kewajaran. Begitupun pada organisasi yang concern dalam tulis menulis seperti di Lembaga Pers Mahasiswa Media Ekonomi ataupun di LS Profetika yang saya geluti. Malam itu, terjadi obrolan yang panjang dengan Firdaus Putra Aditama—Direktur LS Profetika—yang mengusulkan dalam tempo dua minggu sekali, setiap anggota LS Profetika untuk membuat minimal dua tulisan untuk didiskusikan bersama. Temanya bebas, meskipun LS Profetika sendiri memfokuskan diri pada tema-tema sosial keagamaan. Agenda rutin tersebut ditujukan untuk menjadi tempat pemberdayaan setiap anggota dalam menulis. Sejauh itu kami menemukan kesepakatan dan saya tidak keberatan.

Bercermin ke dalam diri sendiri, lebih jauhnya saya menemukan ketidak-sreg-an atas usulan Firdaus. Walaupun memang perkenalan dengan tulisan sudah sejak SD, tapi bagi saya, menulis masih merupakan hal yang baru. Mulai mengenal manfaat dalam menulis di perguruan tinggi, membuat saya seperti kembali pada titik nadir. Meskipun adagium “Lisan itu Fana, Tulisan itu Abadi” yang banyak diucapkan untuk menumbuhkan minat dalam menulis, tapi banyak juga yang menganggap adagium tersebut sekadar kata mutiara. Untuk dapat menerima adagium tersebut sampai muncul kemauan untuk mulai menulis tentu dibutuhkan penghayatan, yang tidak instan seperti diharapkan oleh adagium tersebut.

nabi_laozi_menulis_taotekcing1Dilain sisi, mengingat organisasi sebagai lingkungan dengan segala tradisinya. Baik LS Profetika maupun LPM Media Ekonomi memiliki tradisi tulis menulis. Perkenalan dan tahu soal manfaat menulis, saya akui adalah buah dari proses dialektika saya dengan tradisi yang dimiliki organisaisi. Satu tahun, dua tahun dan baru memasuki tahun ketiga di organisasi, saya benar-benar merasakan nikmat dan adanya tujuan yang dapat diperoleh dari sebuah tulisan sehingga mulai menggerakkan jari jemari untuk menulis. Meskipun tidak pasti tulisan yang saya tulis pernah di baca atau tidak oleh orang lain?

Apabila terbentur masa kelulusan dari Universitas, yang diikuti berakhirnya keikutsertaan saya dalam organisasi-organisasi tersebut, saya khawatir akan meleber kepada hilangnya minat atau malah jadi enggan untuk menulis lagi. Saya menyimpulkan bagaimana seharusnya minat untuk menulis agar dapat terus terpelihara pada saat sendiri hingga saya lulus nanti, berpisah dengan sahabat-sahabat atau mungkin juga hingga saya mati? Menulis yang diperoleh dari proses yang instan, saya rasa tidak mampu terpelihara dalam waktu yang lama. Saya khawatir lingkungan seperti kedua organisasi itu hanya menjadi super ego dengan ritual-ritual yang mesti diikuti. Begitulah saya mencermati usulan Firdaus. Dan saya meminta agar ditempatkan sebagai free rider saja, ketika agenda diskusi soal tulisan LS Profetika berlangsung. Sebagai free rider saya mencoba untuk tetap menulis, namun saya maksudkan tidak dalam rangka untuk memenuhi tuntutan lembaga yang menjadi formal.[]




Stats Counter

  • 5,427 Orang

Peta Pengunjung

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tulisan Teratas

Tag

Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.